Jumat, 02 Januari 2009

PENGENALAN HEWAN AVERTEBRATA YANG HIDUP DI DARAT

  1. PENDAHULUAN

A. Dasar Teori

Hewan avertebrata dapat dikelompokkan berdasarkan : banyaknya sel penyusun tubuh, konstruksi tubuh, jumlah lapisan tubuh, kesimetrian tubuh, pembentukan anus dan mulut pada awal perkembangan embrionalnya, kondisi rongga tubuh, ada tidaknya lofofora dan ada tidaknya segmentasi tubuh. Berdasarkan kedelapan pengelompokkan itu, kita dapat mempelajari kesimetrian tubuh dan ada tidaknya segmentasi tubuh yang dapat kita ketahui melalui pengamatam morfologi.

Bangun simetri tubuh terdiri atas dua bangun, yaitu simetri radial dan simetri bilateral. Tubuh simetri radial adalah satu tipe simetri dimana tubuh secara radial mengelilingi suatu sumbu pusat tunggal. Umumnya di sisi kanan dan kiri tubuh hewan tidak jelas, karena masing-masing busur identik terhadap busur lainnya. Jika suatu irisan diarahkan ke setiap dua radius yang berlawanan, maka irisan itu akan membagi hewan avertebrata simetri radial menjadi dua tengahan yang serupa. Contoh : hewan-hewan dari phyla Cnidaria dan Chenophora.

Bangun tubuh hewan avertebrata simertri bilateral pada umumnya memiliki tubuh yang kita bagi menjadi dua bagian menurut arah depan (anterior) ke belakang (posterior) akan menghasilkan paruhan yang sama seperti suatu benda dengan bayangan di cermin. Jika memperhatikan yang tubuhnya simetri bilateral, hewan itu akan menunjukkan pembagian tubuh yang tampak jelas terdiri atas kepala, thoraks dan abdomen. Contoh : classis Insecta dari phylum Arthropoda.

Hewan avertebrata ada yang terdiri atas segmen-segmen atau metamer. Segmen-segmen ini ada yang serupa dari depan ke belakang (anteroposterior), gejala semacam ini, yaitu tubuh hewan avertebrata tersusun oleh suatu rangkaian segmen atau metamer, yang segaris sepanjang sumbu anteroposterior disebut mengalami metamerisme. Masing-masing metamer penyusun tubuh hewan avertebrata ini mirip dalam konstruksi dan fungsinya. Umumnya hewan protostomata bermetamer, masing-masing metamer atau disebut juga somit, dilewati oleh usus. Contoh : anggota dari phylum Annelida.

Adapula avertebrata yang tubuhnya terdiri atas penyatuan beberapa segmen menyusun kepala, thoraks dan abdomen. Proses penyatuan beberapa atau banyak segmen dalam beragam kelompok-kelompok fungsi pada hewan bermetamer ini di disebut mengalami tagmatisasi. Masing-masing kelompok metamer atau tagma ini secara structural dan fungsional berbeda dengan tagma lainnya. Contoh : pada classis Insecta dan Crustacea memiliki tiga tagma yaitu kepala, thoraks dan abdomen yang masing-masing terdiri dari tiga atau lebih metamer.


B. Tujuan


  1. Mengenali cirri cirri yang tampak pada hewan avertebrata

  2. Mengelompokkan hewan avertebrata berdasarkan kesimetrian tubuh dan metamer









II. TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa hewan avertebrata misalnya pada Phylum/Filum Protozoa atau Protosoa. Protozoa adalah hewan bersel satu karena hanya memiliki satu sel saja aatau bersel tunggal dengan ukuran yang mikroskopis hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Protozoa dapat hidup di air, di dalam tubuh makhluk hidup atau organisme lain sebagai parasit. Hidupnya dapat sendiri atau koloni. Contohnya : amuba/amoeba. Phylum/Filum Porifera. Porifera adalah binatang atau hewan berpori karena tubuhnya berpori-pori mirip spon dengan bintang karakter terkenal spongebob squarepants hidup di air dengan memakan makanan dari air yang disaring oleh organ tubuhnya. Contohnya : bunga karang, spons dan grantia.

Phylum Coelenterata adalah hewan berongga bersel banyak yang memiliki tentakel contohnya seperti ubur-ubur dan polip. Simetris tubuh coelenterata adalah simetris bilateral hidup di laut. Contohnya : hydra, koral, polip dan jellyfish atau ubur-ubur. Phylum Platyhelminthes adalah binatang sejenis cacing pipih dengan simetri tubuh simetris bilateral tanpa peredaran darah dengan pusat syarah yang berpasangan. Cacing pipih kebanyakan sebagai biang timbulnya penyakit karena hidup sebagai parasit pada binatang/hewan atau manusia. Contohnya antara lain seperti planaria, cacing pita, cacing hati dan polikladida.

Phylum Annelida adalah cacing gelang dengan tubuh yang terdiri atas segmen-segmen dengan berbagai sistem organ tubuh yang baik dengan sistem peredaran darah tertutup. Annelida sebagian besar memiliki dua kelamin sekaligus dalam satu tubuh atau hermafrodit. Contohnya : cacing tanah, cacing pasir, cacing kipas dan lintah / leeches. Phylum Nemathelminthes atau cacing gilik/gilig adalah hewan yang memiliki tubuh simetris bilateral dengan saluran pencernaan yang baik namun tiak ada sistem peredaran darah. Contoh cacing gilik : cacing askaris,cacing tambang dan cacing filaria..

Phylum Echinonermata adalah binatang berkulit duri yang hidup di wilayah laut dengan jumlah lengan lima buah bersimetris tubuh simetris radial. Beberapa organ tubuh echinodermata sudah berkembang dengan baik. Misalnya teripang/tripang/ketimun laut, bulu babi, bintang ular, dolar pasir, bintang laut dan lilia laut.

Phylum Mollusca adalah hewan bertubuh lunak tanpa segmen dengan tubuh yang lunak dan biasanya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang atau cangkok yang terbuat dari zat kapur untuk perlindungan diri dari serangan predator dan gangguan lainnya. Contoh molluska : kerang, nautilus, gurita, cumi-cumi, sotong, siput darat, siput laut dan chiton.







































III. MATERI DAN METODE


  1. Materi


Materi yang diamati adalah hewan avertebrata kupu- kupu, bulu babi dan bekicot. Alat yang digunakan yaitu bak preparat, pinset, jarum preparat, kaca pembesar, mikroskop, buku gambar, dan alat tulis.


  1. Metode


  1. Tiap kelompok membawa preparat yang akan diamati

  2. Tiap mahasiswa mengamati dan menggambar hewan avertebrata yang diamati berdasarkan ciri- ciri morfologi yang dimiliki

  3. Tiap kelompok mahasiswa memisahkan hewan avertebrata yang diamati berdasarkan kesimetrian tubuh dan metamer

  4. Preparat yang telah diamati agar diawetkan, untuk kegiatan identifikasi dan determinasi pada acara praktikum selanjutnya









    1. HASIL DAN PEMBAHASAN


      1. Hasil

Gambar. Kupu-kupu Gambar.BuluBabi

Gambar. Bekicot





      1. Pembahasan

Kupu-kupu dan ngengat merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, atau serangga bersayap sisik. Secara umum kupu-kupu dibedakan dari ngengat atau kupu-kupu malam berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal). Kupu-kupu beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya. Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada perkecualiannya, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti. Kupu kupu memiliki bentuk tubuh tagmatisasi yaitu penyatuan beberapa segman dalam beragam kelompok kelompok fungsi pada hewan bermetamer.

Echinodermata adalah sebuah filum dari hewan laut yang ditemukan hampir di semua kedalaman. Echinoidea (bulu babi) dikenal karena duri mereka yang mampu digerakkan. Bulu babi merupakan binatang triploblastik selomata yang mempunyai bentuk tubuh simetri radial yang terbagi menjadi 5 bagian, umumnya mempunyai duri, saluran pencernaan sempurna meski anus pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi, hidup di laut, gerakan lambat dengan kaki pembuluh (ambulakral) yang terjadi dengan mengubah tekanan air yang diatur oleh sistem pembuluh air yang berkembang dari selom. Echinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang mampu hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga sangat khas dalam bentuk tubuhnya, kebanyakan berdasarkan simetri radial (memiliki jari-jari yang simetris), khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang masih berkerabat relatif dekat dengan Chordata dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder.

Gastropoda adalah kelompok hewan yang menggunakan perut sebagai alat gerak atau kakinya. Misalnya, Bekicot (Achatina fulica) hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Johnson (2003) menambahkan bahwa Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat peraba dan pembau.Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel. Bagian-bagian morfologi gastropoda dapat meliputi tentakel dorsal, mata, kepala, tentakel, kaki perut, sutura, apex dan ada yang mempunyai garis pertumbuhan pada cangkangnya (Berthold, 1991).

Klasifikasi Kupu-Kupu

Phyllum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Lepidoptera

Famili : Pieridae

Genus : Anthocharis

Spesies : A. cardamines


Klasifikasi Bulu Babi

Phyllum : Echinodermata

Subphyllum : Deuterostomia

Class : Echinoidea

Ordo : Regularea

Genus : Diadema

Spesies : Diadema sp


Klasifikasi Bekicot adalah sebagai berikut :

Phylum : Mollusca

Class : Gastropoda

Ordo : Pulmonata

Subordo : Stylommotophora

Famili : Achatinidae

Genus : Achatina

Species : Achatina fulica

V. KESIMPULAN

1. Kupu kupu memiliki bentuk tubuh tagmatisasi yaitu penyatuan beberapa segman dalam beragam kelompok kelompok fungsi pada hewan bermetamer.

2. Bekicot (Achatina fulica) memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuhnya, serta bergerak lambat menggunakan kakinya. Bagian-bagian morfologi bekicot meliputi tentakel dorsal, mata, kepala, tentakel, kaki perut, sutura, apex dan ada yang mempunyai garis pertumbuhan pada cangkangnya.

3. Bulu babi merupakan binatang triploblastik selomata yang mempunyai bentuk tubuh simetri radial yang terbagi menjadi 5 bagian.













DAFTAR REFERENSI

Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Sinar Wijaya, Surabaya.

Clifford dan Stephenson. 1975. An Introduction To Numerical Classification. Academic Press, New York.


1 komentar:

Perjalanan Hajiku mengatakan...

Terima kasih atas penerangannya. Oleh penulis buku 40 Hari Di Tanah Suci.