Tampilkan postingan dengan label laporan sph. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan sph. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2009

REGENERASI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap hewan mempunyai kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk yang satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh adalah regenerasi dari organ. Regenerasi organ dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh suatu organisme untuk menggantikan bagian tubuh yang rusak baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja (karena kecelakaan) dengan bagian tubuh yang baru dengan bentuk yang sama persis dengan sebelumnya.

Daya regenerasi tidak sama pada bagian organisme. Hubungan linier antara kedudukan sistematik hewan dengan daya regenerasinya belum terungkap secara jelas. Kelas reptil (diwakili oleh cicak) dan kelas insecta (diwakili oleh kecoa) memiliki daya regenerasi yang rendah, biasanya terbatas pada bagian ekor atau kaki yang lepas atau rusak.

Proses regenerasi yang efektif adalah pada masa embrio hingga masa bayi, setelah dewasa kemampuan regenerasi ini terbatas pada sel atau jaringan tertentu saja. Namun tidak demikian dengan bangsa avertebrata dan reptilia tertentu, kemampuan untuk memperbaiki dirinya sangat menakjubkan hingga dia mencapai dewasa.

Cicak adalah sebagai salah satu contoh dari sekian banyak makhluk hidup yang mempunyai kemampuan dalam regenerasi organ. Cicak akan memutuskan ekornya bila merasa dirinya dalam keadaan bahaya atau menghadapi musuh. Ekor yang diputuskan tersebut akan tergantikan kembali melalui proses regenerasi organ yang memerlukan waktu tertentu dalam proses pembentukannya. Regenerasi adalah proses memperbaiki bagian yang rusak kembali seperti semula. Cicak memiliki daya regenerasi yang terdapat pada ekornya. Daya regenerasi pada berbagai organisme tidak sama karena ada yang rendah sekali dayanya dan ada yang tinggi. Vertebrata paling rendah daya regenerasinya dibandingkan dengan avertebrata. Sub phylum dari vertebrata yang paling tinggi daya regenerasinya adalah urodela. Reptilia daya regenerasinya hanya terbatas pada ekornya saja.

Praktikum ini menggunakan cicak dan kecoa sebagai bahan percobaan karena selain mudah didapat juga karena fenomena putus dan tumbuhnya ekor cicak sering dijumpai, sehingga proses dari tumbuh atau regenerasinya perlu untuk diamati. Praktikum kali ini menggunakan cicak yang telah diamputasi ekornya dan kecoa yang telah diamputasi kakinya dengan sengaja, lalu diamati daya regenerasi yang terjadi pada ekor cicak dan kaki kecoa tersebut.


B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk dapat menyusun rangkaian perkembangan, penyembuhan, dan pembentukan kembali ekor pada ujung ekor yang terpotong dan ujung kaki pada kaki kecoa yang terpotong.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Setiap larva dan hewan dewasa mempunyai kemampuan untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh mereka yang secara kebetulan hilang atau rusak terpisah. Kemampuan menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang ini disebut regenerasi. Kemampuan setiap hewan dalam melakukan regenerasi berbeda-beda. Hewan avertebrata mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih tinggi daripada hewan vertebrata (Majumdar, 1985).

Menurut Balinsky (1981), suatu organisme khususnya hewan memiliki kemampuan untuk memperbaiki struktur atau jaringan yang mengalami kerusakan akibat kecelakaan yang tidak disengaja karena kondisi natural atau kerusakan yang disengaja oleh manusia untuk keperluan penelitian atau experimen. Hilangnya bagian tubuh yang terjadi ini setiap saat dapat muncul kembali, dan dalam kasus ini proses memperbaiki diri ini kita sebut sebagai regenerasi.

Proses regenerasi dalam banyak hal mirip dengan proses perkembangan embrio. Pembelahan yang cepat, dari sel-sel yang belum khusus timbullah organisasi yang kompleks dari sel-sel khusus. Proses ini melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan embrio akan tetapi paling tidak ada satu cara proses regenerasi yang berbeda dari proses perkembangan embrio. Cicak akan melepaskan ekornya bila ditangkap pada bagian ekornya. Cicak kemudian meregenerasi ekor baru pada tepi lainnya pada waktu senggang. Dalam stadium-stadium permulaan dari regenerasi tidak ada sel-sel dewasa sehingga tidak ada penghambatan pembelahan sel. Sel-sel pada permukaan depan mempunyai laju metabolik yang tinggi daripada permukaan di tepi belakang (Kimball, 1992).

Kemampuan regenerasi dari hewan-hewan yang berbeda dapat dibedakan, hal ini tampak dengan adanya beberapa hubungan antara kompleksitas dengan kemampuan untuk regenerasi. Daya regenerasi Spons hampir sempurna. Regenerasi pada manusia hanya terbatas pada perbaikan organ dan jaringan tertentu. Cicak mempunyai daya regenerasi pada bagian ekor yang putus dengan cukup kokoh. (Kaltroff, 1996).

Bila ada tungkai depan Salamander yang dibuang, proses perbaikan pertama ialah penyembuhan luka dengan cara menumbuhkan kulit di atas luka tersebut kemudian suatu tunas sel-sel yang belum terdiferensiasi terlihat. Tunas ini mempunyai rupa yang mirip dengan tunas anggota tubuh pada embrio yang sedang berkembang. Pembelahan yang cepat dari sel-sel embrio yang belum khusus dari tunas anggota tubuh mungkin berasal dari dediferensiasi sel-sel khusus demikian, sebagai sel-sel otot atau sel-sel tulang rawan. Dediferensiasi berarti bahwa sel-sel ini kehilangan struktur diferensiasinya sebelum berperan dalam tugas regenerasi. Sel-sel dari anggota tubuh yang sedang regenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang, dan jaringan lainnya yang menjadikan kaki fungsional (Kimball, 1992).

Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian-bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Hewan avertebrata seperti cacing tanah, udang, ikan, salamander dan kadal tidak mempunyai daya regenerasi yang dapat meregenerasi seluruh organisme, melainkan hanya sebagian dari organ atau jaringan organisme tersebut (Kimball, 1992). Tahap dari perkembangan yang menarik perhatian adalah pergantian dari tubuh yang hilang. Tersusun dari regenerasi jumlah struktur baru organisme tersebut (Wilis, 1983).


III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah penggaris, silet dan toples kaca/botol air mineral. Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah seekor cicak dengan ekor yang masih utuh dan seekor kecoa dengan kaki utuh.


B. Metode

  1. Cicak dengan ekor utuh dan kecoa dengan kaki yang masih utuh di ukur menggunakan penggaris.

  2. Ekor yang telah diukur dipotong dua pertiga dari panjang awal, sedangkan ruas kaki kecoa dipotong pada bagian ruas kedua.

  3. Hewan-hewan tersebut dimasukkan ke dalam toples/botol yang telah di beri lubang udara.

  4. Diamati pertumbuhannya setiap sepekan sekali (7 hari seka

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil pertumbuhan ekor cicak dan ruas kaki kecoa sebagai berikut :


Pertumbuhan panjang ekor (cm)


Cicak I

Cicak II


Cicak III


Cicak IV

Cicak V

Panjang ekor yang dipotong

P.A = 4,5

2,25

P.A = 5

2,5

P.A = 5,1

2,55

P.A = 5,5

2,75

P.A = 4,2

2,1

1.

2,45

2,7

2,65

2,95

2,32

2.

-

-

2,65

-

-

3.

-

-

-

-

-

4.

-

-

-

-

-


Pekan ke-

Pertumbuhan panjang ruas kaki (cm)


Kecoa I

Kecoa II


Kecoa III


Kecoa IV

Kecoa V

Panjang ruas kaki yang dipotong

P.A = 2,6

1,95

P.A = 2,9

2,125

P.A = 2,2

1,65

P.A = 2,8

2,1

P.A = 1,8

1,35

1.

1,98

-

-

2,3

1,39

2.

-

-

-

-

1,42

3.

-

-

-

-

-

4.

-

-

-

-

-






B. Pembahasan

Ekor cicak memiliki bentuk yang panjang dan lunak yang memungkinkan untuk bisa memendek dan menumpul. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator. Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi. Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan melepaskan diri dari serangan musuh. Jadi, autotomi merupakan perwujudan dari mutilasi diri. Cicak jika akan dimangsa oleh predatornya maka akan segera memutuskan ekornya untuk menyelamatkan diri. Ekor yang putus tersebut dapat tumbuh lagi tetapi tidak sama seperti semula (Strorer, 1981).

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan pada cicak dengan memotong ekornya, setelah diamati selama empat minggu, ternyata bagian ekor yang telah dipotong mengalami pertumbuhan. Ekor yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak dapat sama seperti semula. Pengamatan pada minggu pertama ekor cicak bertambah 0,1 cm, minggu kedua 0,4 cm, dan beberapa hari kemudian cicak tersebut mati. Pertumbuhan ekor cicak yang mengalami regenerasi lebih pendek daripada ekor semula. Karena panjang ekor yang dipotong sepanjang 5 cm sedangkan panjang ekor regenerasi hanya 2 cm. Pada kaki kecoa terjadi penambahan panjang yang tidak terlau signifikan dan kecoa mati sebelum minggu ketiga.

Ekor cicak yang dipotong sel epidermisnya menyebar menutupi permukaan luka dan membentuk tudung epidermis apikal. Semua jaringan mengalami diferensiasi dan generasi membentuk sel kerucut yang disebut blastema regenerasi di bawah tudung. Berakhirnya periode proliferasi, sel blastema mengadakan rediferensiasi dan memperbaiki ekornya. Ketika salah satu anggota badan terpotong hanya bagian tersebut yang disuplai darah dan dapat bergenerasi. Hal inilah yang memberi pertimbangan bahwa bagian yang dipotong selalu bagian distal (Kalthoff, 1996).

Proses regenerasi pada reptil berbeda dengan pada hewan golongan amfibi. Regenerasi tidak berasal dari proliferasi atau perbanyakan sel-sel blastema. Regenerasi pada reptil diketahui bahwa ekor yang terbentuk setelah autotomi menghasikan hasil dengan catatan khusus karena baik secara struktur maupun cara regenerasinya berbeda (Balinsky, 1983).

Secara eksperimental pada ekor cicak yang telah dipotong, ternyata hasil regenerasinya tidak sama dengan semula. Pertambahan panjang tidak sama dengan ekor yang dipotong. Ekor baru tidak mengandung notochord dan vertebrae yang baru hanya terdiri dari ruas-ruas tulang rawan. Ruas-ruas ini hanya meliputi batang syaraf (medula spinalis), jumlah ruas itu pun tidak lengkap seperti semula.

Proses perbaikan pertama pada regenerasi ekor cicak adalah penyembuhan luka dengan cara penumbuhan kulit di atas luka tersebut. Kemudian tunas-tunas sel yang belum berdiferensiasi terlihat. Tunas ini menyerupai tunas anggota tubuh pada embrio yang sedang berkembang. Ketika waktu berlalu sel-sel dari anggota tubuh yang sedang regenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang dan jaringan lajunya yang menjadikan ekor fungsional.

Proses regenerasi ini secara mendasar tidak ada perusakan jaringan otot, akibatnya tidak ada pelepasan sel-sel otot. Sumber utama sel-sel untuk beregenerasi adalah berasal dari ependima dan dari berbagai macam jaringan ikat yang menyusun septum otot, dermis, jaringan lemak, periosteum dan mungkin juga osteosit vertebrae. Sumber sel untuk regenerasi pada reptile berasal dari beberapa sumber yaitu ependima dan berbagai jaringan ikat (Manylov, 1994).

Studi regenerasi mengungkapkan bahwa sel-sel dewasa dari jaringan tertentu yang telah berdiferensiasi misalnya epidermis, mensintesis dan menghasilkan zat yang secara aktif menghambat mitosis-sel-sel muda dari jaringan yang sama, zat ini disebut kolona. Stadium permulaan dari regenerasi tidak ada sel-sel dewasa sehingga tidak ada penghambatan pembelahan sel. Jaringan dari struktur yang mengalami regenerasi berdiferensiasi, mulailah produksi kolona dan agaknya secara berangsur-angsur menghentikan pertunbuhan struktur tersebut. Regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung.

2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit.

3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi. Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit.

4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel-sel pengembara akan berproliferasi membentuk blastema.

5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi.

6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya.

Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan dari tempetatur, pada hal-hal tertentu dapat mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi cepat pada suhu 29,7 derajat Celcius. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi proses regenerasi (Morgan, 1989).

Secara eksperimental bagian kaki kecoa yang terpotong ternyata hasil regenerasinya tidak sama seperti semula. Pertumbuhan kaki kecoa tidak sama dengan kaki kecoa yang tidak dipotong. Kaki yang baru strukturnya tidak sama dengan kaki yang sebelum dipotong.

Berdasarkan data di atas, ternyata pertumbuhan ekor cicak cukup lambat dan tidak terlalu signifikan. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya pasokan dalam pemberian makan atau suhu tempat cicak tersebut kurang ideal karena hidup terkurung dalam toples dan tidak sebebas di luar sehingga cicak menjadi stres yang dapat mempengaruhi kerja proses biologis di dalam tubuhnya, yang mengakibatkan pertumbuhan ekornya lambat.Hari ke 17, cicak tersebut mati. Begitu pula pada kaki kecoa yang dapat diamati. . Hasil regenerasi dari organ tertentu dalam hal ini ekor cicak dan kaki kecoa tidak harus kembali seperti semula. Hal itu membuktikan bahwa sel de-differensiasi bersifat pluripotent, yakni dapat menimbulkan jaringan yang bukan darimana ia berasal.




V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Proses penyembuhan ekor yang terpotong dimulai dengan terjadinya pembekuan darah disekitar luka yang nantinya akan terbentuk scab.

  2. Jaringan epitel kulit yang berada dibawah scab, menyebar menutupi seluruh permukaan luka.

  3. Sel-sel disekitar luka bersifat pluripotent, dimana menjadi muda sehingga aktif membelah kembali.

  4. Terbentuknya blastema atau kuncup regenerasi yang akan menggantikan scab, kuncup ini berasal dari penimbunan sel-sel yang berdediferensiasi

  5. Regenerasi akan berhenti apabila proliferasi sel-sel balastema terhenti juga.



DAFTAR PUSTAKA

Balinsky, B. I. 1981. An Introduction to Embriology. W. B. Saunders Company, Philadelpia.


Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York.


Kimball, John W. 1992. Biology. Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New York.


_____________. 1992. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.


Majumdar, N. N. 1985. Text Book of Vertebrae Embriology. Mc Graw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi.


Manylov, O.G.1994. Regeneration in Gastrotricha –I Light Microscopical Observation on The Regeneration in Turbanella sp.St. Petersburg State University. Russia.


Tjitrosoepomo. 1984. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.


Willis, S. 1983. Biology. Holt Rinehart & Winston Inc, USA.


Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.


________. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.








Kamis, 29 Januari 2009

analisis sperma

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari Bahasa Yunani Kuno yang berarti benih dan makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi jantan. Sel sperma akan membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio. Peran aktif spermatozoon sebagai gamet jantan sehingga penting pada keberhasilan munculnya individu baru oleh karena itu di dalam reproduksi sering diperlukan adanya standar kualitas spermatozoa. Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa mati, motilitas (bila mungkin kemampuan gerak per menit) dan morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan, ada tidaknya akrosoma).
Penggunaan ikan nilem sebagai preparat pada praktikum kali ini karena ikan nilem mudah didapatkan, ukuran tidak terlalu besar, murah, sehat dan produk telurnya relatif tinggi. Pemeriksaan sperma ikan nilem ini dapat diaplikasikan terhadap spesies lain, misal pada ikan mas, ikan paus, atau pada clasiss clasiss lain.



B. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui warna, bau, volume, pH, motilitas, dan jumlah sperma yang dimiliki oleh ikan Nilem jantan (Osteochillus hasselti ♂).
II. TINJAUAN PUSTAKA
Osteochillus hasselti adalah suatu jenis ikan yang hidup di air tawar, baik sungai, rawa-rawa, kolam maupun danau. Nama Indonesia untuk Osteochillus hasselti adalah ikan nilem, milem, lehat, mangut, regis, muntu, palau, assang dan penupu karet. Ikan nilem dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada ketinggian 500-800 m dp dan lebih menyukai pada perairan air jernih, mengalir dengan dasar berpasir atau berbatuan kecil-kecil. Ikan dewasa berukuran dari 100 hingga 200 g.
Ikan jantan masak kelamin setelah berumur kurang lebih 8 bulan. Berat testis lebih ringan dibandingkan berat ovarium pada ikan yang sama umurnya, tetapi panjangnya dapat dikatakan sama. Kedua testis dapat dihasilkan sekitar 1-1,5 ml milt (dalam keadaan ejakulasi alami), tetapi pada striping paling banyak diperoleh 1 ml milt. Testis ikan nilem berbentuk memanjang atau berlobi. Spermatozoa dari testis lewat ductules efferentes masuk kedalam ductus longitudinal testis. Ductus ini berkelok-kelok (konvoluntes) dan ujung anteriornya sering ditetapkan sebagai epididimis ( Jamieson, 1991).
Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari telur yang merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah gamet jantan yang sangat kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur (Sistina, 2000).
Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang “terperas”, sangat sedikit sekali kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa memiliki organel-organel yang sangat sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki ribosom, retikulum endoplasmik dan golgi. Sebaliknya spermatozoa memiliki banyak sekali mitokondria yang letaknya sangat strategis untuk pengefisiensian energi yang diperlukan. Secara struktur ada dua bagian yaitu kepala dan ekor (Soeminto, 1993).
Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi. Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik) haploid yang berupa kantong berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Spermatozoa yang kontak dengan telur, isi akrosomnya dikeluarkan secara eksositosis yang disebut dengan reaksi akrosom (Sistina, 2000).
Ekor sperma terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada pusatnya sama seperti flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri atas mikrotubul pusat dikelilingi oleh Sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya. Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan baling-baling dan memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Keberadan mesin pendorong ini tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling produktif yaitu gula fruktosa yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma (Anonymous, 2006).
Bentuk sperma ada yang normal ada pula yang tidak normal. Dibawah ini adalah bentuk sperma yang abnormal menurut Anton Darsono Wongso (2007):
Makro : 25 % > kepala normal
Mikro : 25 % <>
Taper : kurus, lebar kepala ½ yng normal, tidak jelas batas akrosom, memberi gambaran cerutu
Piri : memberi gambaran ”tetesan air mata”
Amorf : Bentuk kepala yg ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom
Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
Piri : tidak jelas adanya kepala yg nyata, tampak midpiece dan ekor saja
Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah
Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda


III. MATERI DAM METODE
A.Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Mikroskop cahaya, bilik hitung (hemocytometer), pipet eliason, pipet lekosit, gelas obyek, gelas penutup, pH indicator, gelas pengaduk, kertas penghisap/tissue, bak preparat, alat tulis.Bahan-bahan yang digunakan adalah sperma/milt segar, oli imersi, xylol, larutan Nacl, larutan Ringer, larutan George, larutan Giemsa, ether alcohol.



B. Metode
Cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.Ikan jantan disiapkan yang telah diketahui masak kelamin.
2.Dilakukan striping pada tubuh ikan bagian bawah dan disiapkan spluit injeksi untuk mengambil milt yang keluar.
3.Diambil milt sebanyak-banyaknya lalu ditampung di cawan.
4.Milt dalam cawan diberi larutan Ringer/garam fisiologis sebanyak 0,9 ml (2x).
5.Diambil milt 0,1 ml untuk masing-masing kelompok.
6.Dilakukan pengamatan pada :
a.Motilitas
Diambil sperma yang diencerkan secukupnya, diletakkan pada objek glass, diberi sedikit air untuk aktifasi lalu ditutup dengan cover glass.
b.Jumlah sperma
Dicari bilik jantung pada hemocytometer, sperma dimasukkan ke dalam bilik hitung hingga terisi penuh.
c.Morfologi
Sperma diambil lalu diletakkan pada objek glass, dibuat apusan dengan cara sebagai berikut :
Sperma yang telah diencerkan diteteskan ke dalam objek glass.
Digeser/ditarik ke belakang sedikit lalu ke depan.
Dikeringanginkan.
Dicelupkan ke dalam larutan giemsa selama 30 menit.
Dikeringanginkan.
Lalu dicuci dengan air yang mengalir.
Dikeringanginkan lalu diamati.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
I. Warna : Putih susu
II. Bau : Amis
III. pH : 7
IV. Volume : 0,1 ml
V. Bilik hitung :


VI. Motilitas : a. Kelompok I 60 %
b. Kelompok II 80 %
c. Kelompok III 80 %
d. Kelompok IV 5 %
e. Kelompok V 90 %
VII. Jumlah spermatozoa : Kiri atas : 29
Kanan atas : 26
Tengah : 44
Kiri bawah : 24
Kanan bawah : 38
Jumlah : 161
Pengenceran (1000) x 161/5 x 2,5 x 105 = 8050 juta sel/ml
VIII. Morfologi spermatozoa :




B. Pembahasan
Gamet jantan pada umumnya berukuran relatif kecil, tanpa atau sedikit sekali cadangan makanan, aktif bergerak (motil) dan dibentuk dalam jumlah besar. Spermatozoa dihasilkan terus menerus tiap hari. Tapi bagi hewan yang memiliki musim kawin penghasilan itu lebih terlihat jika tiba musimnya. Ada pula penghasilan berlangsung terus sebelum musim kawin, lalu dicadangkan. Gerakan spermatozoa ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur dalam ductus epididimis mengalami pengaktifan. Kecepatan spermatozoa saat keluar dari tubuh dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit (Sistina, 2000).
Spermatozoa mudah terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah. Kekurangan vitamin E menyebabkan spermatozoa tidak bertenaga untuk melakukan pembuahan. Terlalu rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan membuahi. Perubahan pH pun dapat merusak sperma, terlebih terhadap asam. Keasaman sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan karena mematikan spermatozoa yang masuk. Bagi gamet yang membuahi dalam air, ketahanan spermatozoa itu singkat sekali. Spermatozoa katak dapat tahan hidup 1-2 jam, sedangkan spermatozoa ikan hanya 10 menit (Black and Pickering, 1998).
Fertilisasi dapat didukung oleh kualitas spermatozoa yang baik. Untuk mengetahui tingkat fertilisasi yang lebih tinggi, perlu dicari larutan fisiologis yang dapat menambah daya motilitas dan viabilitas spermatozoa. Menurut Rustidja (1985) dalam Hidayaturrahmah (2007), penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit.
Lendir yang keluar dari genitalia jantan waktu ejakulasi disebut semen (mani). Ia terdiri dari bagian padat dan bagian cair. Bagian padat ialah spermatozoa, bagian cair disebut plasma semen (air mani). Spermatozoa dihasilkan testis, plasma semen dihasilkan ampulla vas defferens, dan kelenjar-kelenjar prostate, vesicula seminalis, (Cowper dan Littre). Kandungan semen antara lain fruktosa (sebagai sumber energi), asam sitrat dan lain-lain (yang dihasilkan dalam prostate), prostaglandin (yang dihasilkan oleh vesicula seminalis dan prostate), elektrolit (untuk memelihara pH plasma semen), enzim pembuahan (dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar), inhibitor (terkandung dalam plasma semen), hormon (berasal dari testis), dan zat organisme lain (Yatim, 1994).
Hasil pengamatan milt berwarna putih susu. Bau semen yang khas tajam dan amis. Bau itu berasal dari oksidasi sperma yang dihasilkan prostate. Jika tak ada bau khas mani, prostate tak aktif atau ada gangguan. Mungkin gangguan itu pada saluran atau kelenjar sendiri. Bau busuk oleh adanya infeksi (Yatim, 1984).
Keadaan fisik semen yang baru diejakulasi adalah kental. Tapi sekitar 15 menit kemudian akan mengalami pengenceran, disebut likuifikasi, oleh seminin (enzim lysis) yang dihasilkan prostate. Pengenceran yang tidak wajar berarti ada ketidakberesan pada kelenjar itu. Warna semen waktu baru diejakulasi seperti warna lem kanji yang encer, atau putih keabu- abuan. Makin gelap warna ini jika makin banyak terkandung spermatozoa di dalam. Jika spermatozoa sedikit sekali atau tidak ada di dalam, semen itu bening jernih.
Semen diteteskan dengan batang kaca pada kertas pH berukuran warna penunjuk, pH normal ialah 7,2 – 7,8. Volume normal semen sekali diejakulasi sekitar 2,0 sampai 3,0 ml, ada juga yang sampai 4,5 ml. Jika volume kurang dari 1 ml, ada kemungkinan tak beresnya prostate dan vesicula seminalis yang merupakan penghasil utama plasma semen. Konsentrasi atau jumlah spermatozoa/ml semen, dihitung dengan hemocytometer Neubauer. Dihitung dengan melihatnya di bawah mikroskop perbesaran 450x. Menurut Rehan et al., (1975) dalam Yatim (1984), konsentrasi itu 8,1-57 SD juta/ml, dengan range 4-318 juta/ml. sedangkan menurut Smith et al., (1978) dalam Yatim (1984), konsentrasi itu 70-65 juta/ml, dengan range 0,1-600 juta/ml. Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil maju > 40%. Lebih lanjut, Rehan et al (1975) dalam Yatim (1984), yang normal motilnya ialah 63-16 SD, dengan range 10-95%.
Data motilitas masing-masing kelompok berbeda dan memiliki rata-rata yaitu sebesar 0,64%.Sedangkan presentase sperma nonmotil rata- rat ialah sebesar 99,36%. Kualitas pergerakan spermatozoa disebut baik bila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik atau sangat baik (grade II/III). Gradasi menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut :
0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat
2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat
3 = spermatozoa bergerak ke depan dengan sangat cepat
Bila spermatozoa yang motil kurang dari 50%, maka spermatozoa disebut astenik. Istilah yang digunakan adalah Astenozoospermia ( Wongso, 2007).
Hasil pengamatan jumlah spermatozoa dari praktikum kali ini ialah sebesar 2645x 107 sel /m3 atau 26,45 juta perml. Menurut Anton Darsono W (2007), jumlah spermatozoa/ml yang menjadi pegangan untuk dikatakan cukup, kurang, atau berlebih adalah 20 juta permil. Istilah yang dipakai adalah sebagai berikut :
a)0 juta/ml disebut azoospermia
b)> 0-5 juta/ml disebut ekstrimoligozoospermia
c)< 20 juta/ml disebut oligozoospermia
d)>250 juta/ml disebut polizoospermia
Jumlah spermatozoa 20 – 250 juta/ml sudah dianggap masuk dalam batas-batas yang normal.
Morfologi spermatozoa pada ikan berbeda dengan manusia. Manusia memiliki spermatozoa yang berkepala lonjong (dilihat dari atas) dan pyriform (dilihat dari samping). Lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung. Kepala 4-5 mikro meter panjang dan 2,5-3,5 mikro meter lebar. Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikro meter dan tebalnya berbeda, dari 1 mikro meter dekat pangkal ke 0,1 mikro meter dekat ujung (Anonymous, 2006). Sedangkan ikan memiliki spermatozoa yang berflagelata dan tak berakrosoma. Spermatozoa hasil suspensi testis keadaanya sama dengan spermatozoa hasil striping. Kepala berbentuk bulat, dengan diameter sekitar 2,86-0,16 mikro meter, panjang sekitar 25,86 mikro meter. Pada pangkal flagella ada bangunan seperti cincin, annulus (Jamieson, 1991).
Spermatozoa disebut mempunyai kualitas bentuk yang cukup baik bila ≥50 % spermatozoa mempunyai morfologi normal. Pemeriksaan morfologi mencakup bagian kepala, leher dan ekor dari spermatozoa Bila > 50% spermatozoa mempunyai morfologi abnormal, maka keadaan ini di sebut teratozoospermia.

Secara morfologik sulit dibedakan antara ikan nilem betina dan jantan, perbedaan baru tampak setelah ikan masak kelamin. Operkulummya kasar bila diraba pada ikan jantan dan terasa halus pada ikan nilem betina. Bila diurut perutnya dari sebelah belakang operculum ke arah papilla genital, akan keluar cairan (milt) seperti santan pada ikan jantan, sedangkan pada ikan betina tidak. Ikan betina biasanya lebih jinak dibandingkan ikan nilem jantan (Black and Pickering, 1998).
Ikan Nilem termasuk tipe jantan heterogamet. Ikan nilem jantan berkromosom kelamin X dan Y, sehingga menghasilkan spermatozoa berkromosom kelamin X (ginosperma) dan spermatozoa berkromosom kelamin Y (androsperma). Ikan nilem betina berkromosom kelamin XX, dengan gamet yang dihasilkan seluruhnya berkromosom kelamin X (Austin et al., 1972 dalam Soeminto dkk., 2002).

V.KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.Warna sperma ikan Nilem berwarna putih susu
2.Ikan Nilem memiliki bau yang khas yaitu amis.
3.Sperma Nilem dalam keadaan basa, karena memiliki pH 7.
4.Tingkat motilitas sperma ikan Nilem jika direrata sebesar 0,64%
5.Morfologi sperma ikan memiliki bentuk kepala bulan, berflagel, dan tidak berakrosom.
6.Jumlah sperma yang diperoleh dengan menggunakan haemocytometer sebanyak 529. Dengan penenceran 1000 kali maka tiap milliliter terdapat 26450 juta sel sperma.
DAFTAR REFERENSI
Anonymous. 2006. Mesin Canggih Berbahan Bakar Gula. http://www.harunyahya.com (on line) diakses pada tanggal 17 November 2008.

Black, Kenneth D. dan Pickering, Alan D. 1998. Biology of Farmed Fish. Sheffield Academic Press, England.

Hidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas Dan Viabilitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Pada Beberapa Konsentrasi Larutan Fruktosa.Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan.

Jamieson, Barrie GM. 1991. Fish Evolution and Sistematics : Evidence from Spermatozoa. Cambridge University Press, Cambridge.

Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.

Soeminto. 1993. Dasar – dasar Embriologi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.

Soeminto, P. Susatyo, Marhendro. S. 2002. “Pembentukan Ikan Jantan Homogamet (XX) lewat Ginogenesis dan Pemberian Andriol pada Ikan Nilem (Osteochillus hasselti CV)”. Dalam Majalah Ilmiah Biologi. Vol. 19 (2), hal. 50-54, Mei 2002

Wongso, Anton Darsono.2007. Membaca Analisis Sperma. http:// klinik andrologi blogspot.com.diakses tanggal 17 november 2008.

Yatim, Wildan. 1984. Embriologi untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Tarsito Press, Bandung.

Selasa, 11 November 2008

aliZarIn rEd

I. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Tulang maupun tulang rawan adalah bentuk jaringan penyambungan padat yang terspesialisasi yang matriksnya lentur dan luwes. Kedua jaringan itu melakukan fungsi kerangka yang bersifat struktural dan menanggung beban di dalam tubuh. Tulang secara arsitektur direncanakan sebagai jaringan yang ringan tapi luar biasa kuat untuk menanggung beban yang garis kekuatannya mengikuti garis tekanan yang diakibatkan oleh dukungan beban.
Tulang rawan sel sel batangnya proliferasi dan membentuk kondrosit kondrosit yang cepat mengelilingi mereka dengan matriks. Pada tulang sel sel batangnya mula mula berkembang menjadi osteoblas, sel pembentuk matriks yang luar biasa aktif yang lambat laun mengurung diri sendiri dalm suatu lakuna dan menjadi osteosit. Matriks tulang mengandung unsur yang sama seperti jaringan jaringan penyambung lainnya. Pengendapan ini oleh osteoblas disebut osifikasi. Pengendapan garam garam kalsium dalam matriks ini disebut kalsifikasi (pengapuran), suatuproses yang terjadi normal pada tulang tetapi dapat terjadi patologis dalam jaringan penyambungan lain, seperti tulang rawan dan dinding pembuluh darah. Daerah yang belum terjadi kalsifikasi dalam matriks tulang, disebut osteosit.
TUJUAN
Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat mengerjakan prosedur pewarnaan alizarin dan mengamati proses kalsifikasi tulang pada embrio ayam.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Tulang merupakan komponen utama dalam rangka tubuh yang dari sudut pandang teknologi merupakan penggabungan ketegaran dan kekuatan dengan berat terkecil yang memberi ciri yang unik. Sifatnya keras dan kaku, tulang mempunyai sifat elastis tertentu; ada tiga sifat yang bersama-sama membuat tulang sangat cocok dengan fungsinya sebagai rangka. Tulang membantu rangka tubuh dengan kekuatan yang penting untuk fungsinya sebagai tempat perlekatan dan pengungkit otot dan tegar serta menyokong tubuh melawan gravitasi. Rangka tubuh mempunyai fungsi pelindung penting, sebab melindungi otak dan medula spinalis, dan mengelilingi sebagian organ-organ pelvis dan toraks sebagai baju pelindung (Geneser, 1993).
Unsur- unsur jaringan penyambung yang sebenarnya yang ada terdiri atas sel-sel dan serat-serat yang tertanam dalam bahan dasar pekat dan cairan jaringan. Dalam jaringan-jaringan penunjang seperti tulang rawan dan tulang, sifat matriksnya bervariasi. Dalam tulang rawan bahan dasarnya setengah rapuh dan mengandung suatu kompleks protein-karbohidrat yang dikenal sebagai kondromukoid (Bevalender, 1988).
Tulang atau jaringan osteosa adalah sejenis jaringan ikat kaku yang menyusun sebagian besar kerangka dewasa. Matriksnya mengandung unsur anorganik, terutama kalsium fosfat, yang merupakan kurang lebih dua per tiga berat tulang. Secara makroskopik, tulang terbentuk spongiosa atau kompak (Lesson et al., 1990).
Tulang dapat dibentuk dengan dua cara, yaitu melalui mineralisasi langsung pada matriks yang disekresi oleh osteobla (osifikasi intra membranosa) atau melalui penimbunan matriks tulang pada matriks tulang rawan sebelumnya (osifikasi endokondral). Pada kedua proses tersebut, jaringan tulang yang pertama kali dibentuk adalah primer atau muda. Tulang primer adalah jaringan yang bersifat sementara dan tidak lama kemudian diganti oleh jenis tulang berlamel yang tetap, yang kemudian disebut tulang sekunder (Junqueira, 1995).
III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah inkubator, gunting, pinset, gelas arloji, botol film, dan pipet tetes. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah embrio ayam kampong umur 16 hari, larutan alcohol 95%, larutan pewarna alizarin red, Larutan penjernih A, B dan C, larutan KOH 1% dan 2%, larutan gliserin murni, dan akuades.
B. Metode
Telur ayam yang telah diinkubasi atau dierami selama 16 hari dikeluarkan dari dalam cangkang dan diletakkan di atas gelas arloji.
Embrio dibersihkan dari membran ekstra embrional(amnion, alantolis, dan kantung yolk). Pada embrio sudah ditutupi oleh bulu maka bulu-bulu tersebut dibersihkan terlebih dahulu agar tulang yang telah mengalami proses kalsifikasi terlihat.
Setelah embrio bersih lalu dimasukkan kedalam botol film yang telah diisi larutan alkohol 95 % selama kurang lebih 12 jam.
Setelah 12 jam, larutan alkohol diambil dengan pipet kemudian diganti dengan larutan KOH 1 % dan dibiarkan selama 3 jam hingga otot menjadi transparan dan skeleton jelas terlihat.
Setelah 3 jam, larutan KOH 1 % diambil dengan pipet kemudian diganti dengan alizari red selama 3 jam hingga skeleton berwarna merah tua.
Setelah 3 jam larutan alizarin diambil kemudian diganti dengan larutan KOH 2 % selama 30 menit.
Setelah 30 menit larutan KOH 2 % diambil dan diganti dengan larutan penjernih A, B, dan C masing-masing 1 jam.
Kemudian larutan penjernih tersebut diganti dengan lerutan gliserin murni agar embrio tersebut awet.
Bagian tulang-tulang yang terwarnai berarti telah mengalami kalsifikasi dan kemudian digambar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Gambar: Penulangan embrio ayam umur 13 hari
Keterangan Gambar:
1. Orbit 12. Keel
2. Mandible 13. Thoracic vertebrae
3. Cervical vertebrae 14. Uncinate process
4. Metecarpals 15. Pelvis
5. Ulna 16. Caudal vertebrae
6. Radius 17. Femur
7. Humerus 18. Ribs
8. Scapula 19. Patella
9. Coracoid 20. Tibio-tarsus
10. Calvicle “whis bone” 21. Tarso-metatarsus
11. Sternum
B. Pembahasan
Praktikum alizarin red kali ini menggunakan pewarna alizarin yaitu suatu pewarna yang dipakai untuk mewarnai tulang dalam mengamati proses kalsifikasi tulang pada embrio. Hasil dari pewarnaan akan menghasilkan warna merah tua karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks tulang.Praktikum ini menggunakan beberapa larutan yang masing- masing larutan memiliki fungsinya masing- masing. Larutan alkohol 95% ini berfungsi sebagai fiksatif.Larutan KOH 1% berfungsi menyebabkan otot menjadi transparan dan skeletonnya terlihat jelas. Larutan pewarna alizarin sebagai pewarna skeleton hingga terwarna merah tua atau ungu. Pada penanganan embrio muda dapat ditinggalkan karena dapat mengakibatkan embrio menjadi terlalu lunak dan mudah hancur. Larutan penjernih A, B, dan C berfungsi untuk mengurangi kelebihan pewarna yang masuk ke dalam jaringan otot sehingga otot menjadi lebih transparan. Larutan glisern murni yang berfungsi sebagai pengawet spesimen.
Tulang yang menyusun sistem rangka berkembang dari sklerotoma yang merupakan derivat dari mesoderma dorsal. Tulang terbentuk melalui 2 cara dimana keduanya melibatkan transformasi dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang. Cara pertama ialah dengan konversi langsung dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang yang disebut osifikasi intra membran dan khas bagi pembentukan tulang pipih yang menyusun tengkorak. Sel sel mesenkim yang mirip fibriblast berdiferensiasi menjadi osteoblast. Sel induk ini akan menumbuhkan serat kolagen dan akhirnya akan berdiferensiasi menjadi osteosit. Cara yang kedua ialah dengan osifikasi endokondral yaitu sel sel mesenkim berdiferensiasi terlebih dahulu menjadi kartilago. Pertumbuhan ini terjadi di dalam tulang rawan hialin yang terbentuk dengan cara ini adalah jenis tulang panjang dan tulang pendek yang terdapat pada alat gerak tubuh, ruas tulang belakang, dan pelvis. Ada 2 tahap proses penulangan dengan cara ini :
Hipertrofi dan penghancuran tulang rawan
Perembesan bahan tulang ke arah tulang rawan yang hancur
Fibroblast berdiferensiasi menjadi osteoblast yang memproduksi serat kolagen (Yatim, 1990).
Proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan tulang sangat tergantung oleh mineralisasi matriks ekstra sel. Komponen matriks ekstra sel utama yang berperan dalam proses pengerasan tulang adalah garam kalsium. Pada embrio ayam, sumber kalsium adalah Ca karbonat pada cangkang. Pada embrio ayam pembentukan sistem rangka dimulai pada hari ke lima inkubasi, yang ditandai dengan kondensasi mesenkim prekartilago. Kondrifikasi dimulai pada hari ke delapan sedangkan osifikasi dimulai pada hari ke sembilan (Soeminto, 2002).
Tulang tengkorak pada hewan yang masih muda terpisah satu sama lain, setelah tua akan bersenyawa satu sama lain. Tulang tengkorak terdiri dari otak yang bulat, rongga mata dan rahang (maxilllae) yang terproyeksi keluar sebelah paruh, rahang bawah (mandibulae) bersendi antara tulang kepala dan leher yang merupakan sebuah sistem condyle (occipitale candyle). Tulang tengkorak merupakan tulang yang dibentuk dengan cara osifikasi intra membran (Yatim, 1990).
Menurut Karyadi (2000), telur yang diperoleh dari induk diambil pada hari ke lima sampai ke delapan. Telur tersebut diinkubasi pada 38-40 0C dengan kelembapan 55-60 %, pada hari ke 12 inkubasi, telur ditetaskan untuk mendapatkan embrio, kemudian dilakukan pengecatan tulang embrio dengan alizarin red-S dengan metode Cont.
Tulang yang terwarnai merah ketika embrio berumur 13 hari pada hasil praktikum ini ialah tarso metatarsus dan tibio fibula. Hasil praktikum kali ini semua tulang pada embrio terwarnai merah, hal ini karena pada saat pemasukkan larutan alizarin red, waktunya kurang lama dan pada percobaan ini tidak dimasukkan larutan KOH 2 % sehingga otot embrio kurang transparan.
Menurut Radiopoetro (1986), tulang-tulang yang terbentuk pada embrio ayam akan terlihat dengan jelas pada saat otot menjadi tampak jernih transparan (seperti tertera pada hasil pengamatan).
Vertebrae dan Costae
Vertebrae tersusun dalam columna vertebralis. Vertebra di daerah cervik mudah digerakkan, sedangkan di daerah badan sukar atau boleh dikatakan tidak mudah digunakan. Vertebra cervikalis berjumlah 8-9 buah. Vertebra cervikalis ke arah caudal dilajutkan dengan vertebra thorakalis. Suatu tonjolan yang mencuat ke cauda dorsal berguna untuk memperkuat dinding thoraks, dan disebut processus incinatus (uncinate prosess).
Sternum (tulang dada)
Cingulum membri anteriori (gelang bahu)
Clavucula, coracoid, dan scapula ketiga tulang ini bersama-sama membatasi suatu lubang yang disebut foramen triosseum, dan berfungsi sebagai kontrol untuk mengangkat sayap. Clavicula in menenpel pada coracoid bersendi pada muka sternum, dan keseluruhan scapula menempel pada coracoid.
Cingulum membri posterior (gelang pinggul)
Gelang pinggul terdiri dari tulang-tulang : illium, iscchium, dan pubis.
Skeleton membri liberi, ada dua, yaitu :
Skeleton membri anteri liberi
Skeletonnya mulai dari proximal ke distal berturut-turut adalah :
Humerus, ialah lengan atas bersendi pada cavitas glenoioalis.
Radius.
Ulna
Metacarpals
Digiti : pada aves tinggal tiga jari saja.
b. Skleton memberi posterior liberi
Skeletonnya dari proximal ke distal berturut-turut adalah:
femur
patela; ialah tulang lutut kecil
tibio tarsus; ialah persatuan dari dua tulang yaitu tulang tibia dan tarsalis
fibula; adalah tulang betis biasanya kecil sekali dan pendek
tarso metatarsus; ialah persatuan antara dua tulang yaitu tarso dan metatarsus
pholanges; ialah tulang jari-jari
digiti; pada ayam hanya ada empat
V. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan:
alizarin red yaitu suatu pewarna yang dipakai untuk mewarnai tulang dalam mengamati proses kalsifikasi tulang pada embrio.
Hasil dari pewarnaan akan menghasilkan warna merah tua atau ungu karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks tulang.
Proses pewarnaan alizarin red dilakukan pada embrio ayam yang berumur antara 10-15 hari masa inkubasi.
Tulang pada embrio yang terwarnai merah pada praktikum kali ini ialah tibio fibula dan tarso metatarsus
DAFTAR REFERENSI
Bevalender, Geneser. 1988. Dasar-dasar Histologi. Erlangga, Jakarta.
Geneser, Finn. 1993. Textbook of Histology. Munksgaard, Copenhagen.
Junqueira, L.C. 1995. Basic Histology. Appleton & Lange, New York.
Karyadi, Bhakti., dkk. 2003. Pemberian Rasio Kalsium dan Fosfor Terhadap Osifikasi Tulang Embrio Puyuh. Jurnal Penelitian UNIB. Vol. IX, No 2, Hal. 76-80. Bengkulu.
Lesson et al., 1990. Atlas of Histology. W.B. Saunders Company, London.
Radiopoetro. 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Soeminto et al., 2002. Embriologi Vertabrata. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.
Yatim, W. 1990. Embryologi. Tarsito, Bandung.

vaginal smeAr

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Mamalia mempunyai aktivitas seksual sepanjang hidupnya. Aktivitas seksual tersebut selalu berubah-ubah, kadang tinggi dan kadang rendah. Periode yang menunjukkan bahwa hewan betina sedang mengalami aktivitas seksual tinggi yang ditunjukkan dengan tanda-tanda seperti gelisah dan berteriak-teriak memanggil pejantan disebut dengan istilah estrus. Istilah estrus semula hanya menunjukkan kehadiran periode keinginan seksual yang tinggi, yang diwujudkan melalui tingkah laku hewan tersebut, tetapi dengan diperolehnya data melalui percobaan, diketahui bahwa pada saat terjadi estrus juga terjadi perubahan-perubahan yang penting dalam hewan tersebut, yang sangat erat kaitannya dengan saat ovulasi, yang biasanya bersamaan dengan fase estrus.
Setiap hewan mempunyai siklus estrus yang berbeda-beda, ada golongan hewan monoestrus (estrus sekali dalam satu tahun), golongan hewan poliestrus (estrus beberapa kali dalam satu tahun), dan golongan hewan poliestrus bermusim (estrus hanya selama musim tertentu dalam setahun). Daur atau siklus estrus terdiri dari empat fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Marmut memiliki siklus estrus yang pendek, oleh karena itu hewan ini dirasa paling cocok digunakan untuk percobaan.
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melakukan prosedur pembuatan preparat apus vagina, mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam preparat tersebut dan menentukan fase estrus dari hewan uji.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Vagina merupakan saluran terdepan sistem pembiakan betina, antara vestibule genitalia luar dan cervix. Dinding terdiri dari 3 lapis, yaitu mukosa, otot polos, dan jaringan ikat (adventitia). Lapisan mukosa terdiri dari epitel dan lamina propia. Sel epitel beberapa lapis dan terluar menggepeng, dalam keadaan normal lapisan epitel ini tak menanduk pada Primata, tapi menanduk pada Rodentia. Pada Rodentia sel-sel epitel menanduk ini dijumpai waktu dilakukan usapan vagina (Yatim, 1982).
Vagina tidak memiliki kelenjar sehingga yang membasahi vagina berasal dari lendir cervix, hanya di vestibule genitalia luar terdapat kelenjar. Lamina propia kaya akan pembuluh darah, rangsangan sex waktu coitus darah ini sumber cairan yang membasahi vagina (Yatim, 1982).
Menurut Nalbandov (1990), vagina memiliki panjang rata-rata 6,9 cm, dengan kontribusi bagaian-bagiannya adalah sebagai berikut :
Macam : kapur
Jumlah : 6,1 gram
Padatan : 98,4%
Waktu untuk lewatnya telur : 18-22 jam
Macam : mukus
Jumlah : 0,1
Waktu untuk lewatnya telur : 1/60 jam
Vagina mamalia terbagi menjadi dua bagian, yaitu vestibulum (bagian terluar vagina) dan vagina posterior (meluas dari muara uterus sampai serviks). Dinding otot pada vagina kurang berkembang bila dibandingkan dengan bagian sistem duktus yang lain. Dinding otot terdiri atas lapisan tipis otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler yang lebih tebal. Jaringan pengikat longgar dan padat yang besar jumlahnya, yang disuplai oleh anyaman vena, berkas-berkas syaraf, dan kelompok-kelompok kecil sel-sel syaraf, merupakan tanda-tanda karakteristik vagina (Nalbandov, 1990).
III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu mikroskop cahaya, gelas obyek, gelas penutup, dan kapas steril/cotton bud.Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah marmut betina masak kelamin yang tidak sedang hamil, larutan NaCl 0,9%, larutan alkohol 70%, dan pewarna methylen blue 1% akuosa.
B. Metode
Gelas obyek dibersihkan dengan alkohol 70% dan dikeringkan dengan udara.
Marmut betina diperiksa, dipegang dengan telapak tangan kanan. Ditelentangkan di atas telapak tangan, tengkuk dijepit dengan ibu jari dan telunjuk, ekor dijepit diantara telapak tangan dan jari kelingking.
Ujung cotton bud dibasahi dengan larutan NaCl 0,9% dan dimasukkan perlahan-lahan ke dalam vagina marmut sedalam ± 5mm, diputar searah jarum jam dua hingga tiga kali.
Ujung cotton bud tersebut dioleskan pada gelas obyek dua atau tiga baris olesan dengan arah yang sama (sejajar).
Ulasan vagina pada gelas obyek ditetesi pewarna methylen blue 1%, digoyang-goyangkan supaya merata dalam permukan olesan. Dibiarkan selama 5 menit.
Sediaan dicuci pada air mengalir, kemudian ditutup dengan gelas penutup.
Sediaan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah, baru kemudian dengan perbesaran kuat.
Gambaran sel pada sediaan dengan standar dibandingkan.
Ditentukan fase estrus hewan uji.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Gambar fase estrus
Keterangan :
1. sel epitel terkornifikasi
B. Pembahasan
Peristiwa-peristiwa fisiologis yang utama pada siklus estrus terjadi pada ovarium, kejadian-kejadian tersebut ternyata tercermin pada perubahan-perubahan yang terjadi pada vagina di bawah pengaruh hormon-hormon ovarium, yakni estrogen dan progesteron. Histologi epitelium vagina tidak tinggal tetap diam selama siklus. Epitelium vagina secara siklik rusak dan dibangun kembali, bervariasi dari bentuk skuama berlapis sampai kuboid rendah. Perubahan siklik ini dapat diikuti dengan menggunakan teknik preparat apus vagina, yakni dengan mengeruk debris yang terkumpul di lumen dan memeriksanya di bawah mikroskop. Tipe-tipe epithelium yang mendominasi preparat apus tersebut memberikan petunjuk apakah epithelium vagina sedang distimulasi atau tidak oleh estrogen (Nalbandov, 1990).
Vaginal smear atau yang lebih dikenal dengan apus vagina ialah. Perubahan-perubahan histologis vagina terjadi pada semua mamalia betina selama siklus estrus. Teknik preparat apus vagina ternyata paling berfaedah, terutama pada spesies yang memiliki siklus estrus pendek (mencit dan tikus), karena pada spesies ini, histologi vagina dapat mencerminkan kejadian-kejadian pada ovarium paling tepat. Spesies dengan siklus yang lebih panjang, seperti pada wanita dan pada semua hewan domestikasi, akan mengalami keterlambatan satu sampai beberapa hari dari perubahan ovarium, sehingga preparat apus vagina kurang dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai indikator kejadian di ovarium. Kecuali itu, betina dengan siklus panjang menunjukkan variasi individu yang sangat nyata, dan hal ini juga yang mengakibatkan apliaksi teknik kurang tepat dan kurang berguna.Tikus yang siklusnya berakhir sekitar empat hari, perbandingan yang seksama telah dilakukan antara morfologi ovarium dengan histologi vagina, dan siklus estrus telah dibagi ke dalam tahap-tahap siklus (Nalbandov, 1990).
Macam macam dari daur pembiakkan antara lain adalah siklus uterus, siklus menstruasi, siklus anovulatoir, siklus vagina, dan siklus mamae. Siklus uterus adalah siklus yang menyebabkan terjadinya perubahan perubahan pada uterus selama siklus estrus. Siklus menstruasi adalah meregenerasinya korpus luteum yang diikuti oleh penghancuran endometrium dengan pendarahan, pada manusia dan kera hal ini kira kira terjadi dua minggu setelah terjadinya ovulasi. Kadang kadang folikel tidak pecah sehingga tidak terbentuk korpus luteum dan tidak ada fase sekresi endometrium, tetapi menstruasi terjadi pada akhir fase proliferasi, fase ini disebut dengan siklus anovulatoir. Epitel pada vagina juga mengalami siklus yang disebut siklus vagina. Sediaan apus vagina dapat digunakan untuk mempelajari perubahan perubahan yang terjadi pada dinding vagina sehingga stadium siklus dapat ditentukan dengan tepat. Siklus mamae yang terjadi pada kera dan mamalia renah memiliki koordinasi pertumbuhan dan regresi glandula mamae dengan siklus ovarium manusia sebelum mensis, buah dada cenderung untuk menjadi besar dan tegang (Syahrum et al, 1994)
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui dari sel yang tampak yaitu epitel mengalami penandukkan (terkornifikasi) menunjukkan bahwa marmut sedang mengalami fase estrus. Pertumbuhan yang cepat dan kornifikasi epitelium vagina selama dan pada akhir estrus disebabkan oleh estrogen.Naiknya kadar estrogen pada marmut juga memberikan kontribusi pada menurunnya kadar kalori pada marmut ( Frisch, 1975).
Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan proestrus. Periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Nongae, 2008)Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati (Nongae, 2008). Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan vagina yang tebal. Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu setelah selesai fase estrus (Nongae, 2008). Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat yang kemungkinan dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini berlangsung. Pasokan darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi kelenjar dirangsang dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada vulva. Kira-kira setelah 14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelah fase estrus (Shearer,2008).
Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus bleeding (Nongae,2008). Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan (Nongae, 2008). Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan sejumlah progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru (Shearer,2008).
Ciri- ciri lain dari siklus estrus pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous (Hill, 2006).
Peristiwa penting dalam daur estrus mamalia tingkat rendah dan daur menstruasi primata adalah ovulasi, yaitu pelepasan sebuah telur yang matang dari folikel dalam ovarium. Telur ini harus dilepaskan jika ada kemungkinan telah terdapat sperma dalam oviduk dan jika lapisan uterus, endometrium berada dalam keadaan yang baik untuk memungkinkan implantasi telur yang telah dibuahi. Ovulasi disebabkan oleh sentakan LH yang disekresi oleh pituitary sebagai respon terhadap GnRH yang disekresi oleh hipotalamus (Ville et al., 1988).
Ovulasi didefinisikan sebagai melewatinya sel telur dari folikel graft. Ovulasi pada semu spesies mamalia ternak terjadi pada periode estrus atau sebelum estrus berakhir. Ovulasi secara umum diinduksi oleh hormon LH (Lituinizing Hormon), tetapi mekanismenya secara pasti belum diketahui. Ovulasi dimulai dengan membesarnya folikel ovari, terutama oleh banyak jumlah cairan yang dihasilkan, kemudian tunik albuginea ovari tertekan dan menimbulkan penonjolan, serta penipisan permukaan ovari yang hampir sama dengan titik abses yang menonjol pada permukaan tubuh dan akhirnya pecah. Cairan folikel serta ovum terlempar ke rongga peritonial di sekitar infendibulum ovduk atau tuba uterin (Hafez, 1968).
Menurut Yatim (1982), genitalia atau alat kelamin betina terdiri dari alat kelamin primer (utama) yaitu ovarium, dan alat kelamin sekunder (tambahan) yaitu :
genitalia dalam :
saluran
kelenjar lender dan kelenjar susu
genitalia luar :
kelenjar susu
permukaan lubang keluar
Saluran terdiri dari tuba, uterus, vagina. Kelenjar menggetahkan lendir berada di dalam saluran, tidak berupa organ khusus. Kelenjar menggetahkan susu sesungguhnya termasuk sistem kulit. Namun karena fungsi dan tabiat strukturnya ia tergolong sistem pembiakan (Yatim, 1982).
Organ reproduksi betina pada mamalia berupa ovarium yang berbetuk pipih dalam keadaan istirahat, tetapi berbentuk bulat, panjang, benjolan-benjolan pada tepinya pada fase reproduksi. Ovarium berada sangat dekat pada suatu lubang berbentuk seperti corong (oesteum) di ujung distal tbae uterina (oviductus = saluran telur) pada tepi lubang oesteum terdapat jumbai yang disebut fimbria. Oviductus di dekat ujung oesteum yang agak mengalami dilatasi disebut ampula, setelah melewati bagian ini, apalagi setelah mencapai uterus, telur sudah tidak dapat dibuahi oleh spermatozoa lagi. Oviductus mamalia selain sebagai jalan sel telur menuju ke uterus juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pembuahan. Uterus ini berfungsi sebagai tempat berlangsungnya perkembangan embrio (memberi tempat, melindungi dan memberi nutrisi serta membantu ekresi) (Soeminto, 2000).
Betina dari sebagian besar spesies mamalia mempunyai daur masa nafsu birahi dan keinginan kawin pada waktu-waktu tertentu, yang disebut masa estrus atau masa ”birahi”, ketika keadaannya optimal bagi penyatuan telur dengan sperma. Sebagian besar hewan liar mempunyai masa estrus sekali setahun, anjing dan kucing tiga atau empat kali, dan tikus tiap empat atau lima hari. Estrus ditandai dengan meningkatnya nafsu birahi, ovulasi dan perubahan dalam dinding vagina dan uterus. Dinding vagina menebal setelah estrus kemudian kelenjar-kelenjar serta pembuluh-pembuluh darahnya berkembang untuk menyediakan lingkungan yang optimal bagi embrio. Sebaliknya, daur primata ditandai dengan masa perdarahan vagina yang disebut menstruasi, yaitu akibat dari degenerasi dan mengelupasnya lapisan endometrium dari uterus (Ville et al., 1988).
Siklus estrus memiliki perbedaan dibandingkan dengan siklus menstruasi. Perbedaannya antara lain :
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus.
pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Dilihat dari siklus estrus, binatang menyusui mempunyai periode estrus tertentu, pada saat itu terjadi ovulasi dan perkawinan
Dilihat dari siklus menstruasi, ovulasi tidak diikuti mensis atau perkawinan dan akhir fase luteal ditandai dengan perdarahan dan pelepasan jaringan
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Vaginal smear dapat digunakan untuk mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam sediaan apus vagina dan untuk menentukan fase estrus hewan uji.
Pada praktikum vagina smear didapatkan fase estrus pada marmot betina yang ditandai dengan hilangnya semua leukosit dan epitel berinti, hanya ada epitel bertanduk yang bentuknya besar-besar.
Macam macam daur pembiakkan antara lain adalah siklus uterus, siklus menstruasi, siklus anovulatoir, siklus vagina, dan siklus mamae.
DAFTAR REFERENSI
Frisch, R.E. 1975. Body weight and Food Intake at Early Estrus of Rats on a High Fat Diet.
Hafez, E. S. E. 1968. Reproduction in Farm Animals. Lea & Febiger, Philadelphia.
Hill, Mark. 2006. Estrous Cycle. The university of new south wales.
Nalbandov, A. V. 1990. Reproductive Physiology of Mammals and Birds. W. H. Freeman and Company, San Fransisco.
Nongae. 2008. Estrus Cycle. http://nongae.gsnu.ac.kr/~cspark/teaching/chap5.html. Tanggal akses 10 Mei 2008
Shearer, J. K. 2008.Reproductive and Physiology of Dairy Cattle.University of Florida.Florida.
Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Unsoed, Purwokerto.
Syahrum et al., 1994. Reproduksi dan Embriologi. FKUI, Jakarta
Ville et al., 1988. General Zoology. W. B. Saunders Company, Philadelphia.
Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.